Penyesalan Tak Berujung

Minggu, 30 Oktober 2011

Di belakang jeruji besi terlihat seorang Rorey Farzan Hakiim yang sedang menangis. Farzan yang sekarang dipenjara lantaran tersandung kasus korupsi ini terlihat sangat menyesal atas perbuatannya tersebut. Ia merasa menyesal bukan lantaran ia dipenjara tetapi lantaran ia teringat akan janjinya kepada ibu dan ayahnya sebelum kedua orang tua nya tersebut meninggal dunia.
Farzan adalah seorang anak laki-laki yang tumbuh dikeluarga yang kurang mampu di daerah Poso Sulawesi tengah, dimana ibunya yang bernama Tina yang bekerja sebagai pencari kayu bakar di hutan dan ayahnya bernama Rodman yang bekerja sebagai buruh tambang. Ia dikenal anak yang ceria dan penurut oleh orang-orang disekitarnya. Ia bersekolah di SD buatan pemerintah kabupaten Poso, dimana SD ini tidak dipungut biaya sama sekali. Pada saat penerimaan raport SD kelas 4 semester 1 ia mendapat ranking 1 dikelas nya. Pada saat itu yang menggambil raport adalah ibunya. Setelah ibunya keluar dari kelas Farzan Ibunya pun langsung berkata padanya “uma bungah sama nanang unda” yang berarti ibu bangga sama kamu anak laki-laki ku. Farzan pun yang belum mengetahui hasilnya langsung memeluk ibunya, ia memeluk ibunya karena ia merasa terharu pada saat pertama kali ia menerima raport dan ibunya langsung berkata bangga padanya. Pada saat itu dikatakan pertama kali iya mendapat raport karena awalnya ia tidak bersekolah karena kondisi ekonomi kedua orang tuanya, ia kali ini dapat bersekolah pun berkat bantuan dari pemerintah kabupaten Poso. Farzan pun bartanya kepada ibunya dia mendapat ranking berapa dan ibunya pun manjawab kalau Farzan mendapatkan ranking 1 dikelasnya. Sesampainya dirumah Farzan pun langsung bergegas berganti pakaian dan ia langsung pergi ketempat ayahnya yang sedang bekerja untuk memberitahukan tentang hasil raportnya. Dari kejauhan Farzan pun berteriak “ABAH” , dan ayahnya pun terkejut dengan kedatangan anaknya yang berlari kearahnya sambil berteriak. Sesampainya farzan dekat dengan ayahnya ia langsung memberikan raportnya tersebut ke ayahnya. Ayahnya pun sangat bangga dengan hasil raport Farzan. Setelah pukul 5 sore ayahnya pulang kerumah. Pukul 7 malam Farzan, ayahnya, dan ibunya makan malam. Sambil makan malam keluarga kecil tersebut membicarakan masalah hasil raportnya Farzan tersebut. Setelah makan malam ayah Farzan bicara serius dengan Farzan, ayahnya berkata ke Farzan kalau ayahnya ingin melihat Farzan menjadi seorang DPR yang bijaksana dan jujur agar dapat menyalurkan aspirasi masyarakat kecil dengan benar dan dapat membuat keputusan dengan tepat untuk mensejahterakan bangsa ini. Hampir satu jam ayahnya bercerita kepada Farzan alasan mengapa ayahnya ingin ia melihat Farzan menjadi seorang DPR, dan tak lupa ayahnya mengingatkan agar Farzan selalu berdoa dan beribadah dengan tekun. Farzan yang terhitung masih kecil, masih belum paham apa yang di maksud ayah nya mengapa ayahnya ingin melihat ia menjadi seorang DPR. Ia tidak begitu memperhatikan yang ayahnya bicarakan, ia tetap mengiyakan permintaan ayahnya tersebut karena ia ingin membuat ayahnya bahagia.
Beberapa hari kemudian Farzan yang sedang bersekolah di datangi oleh tetangganya dan tetangganya tersebut membawa kabar bahwa ayah Farzan meninggal dunia. Seketika Farzan pun menangis dan ia bergegas kembali kerumahnya. Ayah Farzan meninggal akibat terkena longsor di tempat kerjanya. Setelah pemakaman ayahnya selesai Farzan masih dalam keadaan menangis diberi nasihat oleh ibunya bahwa “nanang, ingatlah nasihat abah kau” dan Farzan pun menjawab “iya” (sambil menangis dipangkuan ibunya). Farzan dan ibunya pun melanjutkan hari-hari mereka seperti biasanya tetapi yang membedakan, sekarang ibunya tidak hanya bekerja sebagai pencari kayu bakar tetapi juga sebagai buruh tambang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan Farzan. 6 bulan kemudian ibu Farzan terkena sakit paru-paru, sakitnya ini dikarenakan ibunya terlalu lelah karena bekerja dari pagi hingga malam. Suatu hari disaat ibunya akan tidur, ibunya bertanya kepada Farzan “nanang, kau tau arti nama kau?” Farzan pun menjawab “Farzan tidak tau uma”, ibunya pun menerangkan “Rorey berarti pemimpin, Farzan bearti bijaksana, dan hakiim berarti pandai. Maka dari itu uma sama abah kau ingin kau menjadi seorang pemimpin yang bijaksana.”
Beberapa tahun kemudian pada saat Farzan kelas 2 SMP ibunya meninggal dunia. Kejadian tersebut membuat Farzan sangat terpukul. Ia berusaha bangkit dari kesedihannya dengan cara mencari kesibukan seperti belajar, bekerja untuk memenuhi kebutuhan, dll. Kegiatan sehari-hari yang dia lakukan berprinsip pada nasihat kedua orang tuanya. Setelah lulus SMA dia melanjutkan sekolahnya di Universitas Indonesia, ia dapat melanjutkan ke universitas karena ia mendapatkan beasiswa. Di universitas ia mengambil falkutas sosial politik, karena ia mengingat tentang ayahnya yang ingin melihat ia menjadi seorang DPR. Selama di Jakarta ia tetap rajin belajar tetapi ia sudah jarang beribadah. Di Jakarta ia menjadi semakin terobsesi menjadi DPR karena kehidupan di Jakarta yang gemerlap membuat Farzan terobsesi untuk mendapatkan banyak harta. Beberapa tahun kemudian ia lulus dari Universitas Indonesia, ia berhasil menjadi seorang DPR. Dengan imannya yang sekarang sudah tidak sekuat pada saat ia di Poso dan apalagi pengaruh adanya kehidupan gemerlap di Jakarta, ia selalu tidak pernah merasa puas dengan gaji yang ia terima. Suatu hari Rayno selaku teman Farzan di DPR mengajak Farzan untuk mengkorupsi uang pembangunan gelora bung karno, Farzan pun mengiyakan ajakan Rayno.
Beberapa bulan kemudian Farzan menikah dengan seorang gadis yang bernama Muranda Calluella yang sering disapa ella. Tak lama mereka menikah, Farzan ketahuan korupsi, ia pun di hukum selama 5 tahun penjara. Dan istrinya tersebut meninggalkannya. Beberapa hari setelah ia dipenjara ia sama sekali tidak menyesal tetapi suatu hari ia tidur dan memimpikan kedua orang tuanya. Setelah terbangun dari tidurnya ia teringat akan janjinya kepada orang tuanya dan ia merasa sangat menyesal. Sekeluar dari penjara diapun melanjutkan hidupnya menjadi orang yang sukses, tetapi masih terbayang akan kesalahannya. Dan kesalahannya tadi menjadi penyesalan yang tak berujung bagi seorang Rorey Farzan Hakiim.




BY : RIZKY ARDIANI

Leave a Reply

Diberdayakan oleh Blogger.